Di salah satu ruang kelas kampus Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo, layar proyektor menampilkan deretan angka, tabel, dan grafik. Bagi mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah metodologi penelitian terutama mahasiswa Fakultas Tarbiyah, tampilan itu bukan hal asing. SPSS masih menjadi perangkat lunak utama yang digunakan untuk mengolah data penelitian, mulai dari tugas kuliah Metodologi Penelitian, Statistik, hingga penyusunan skripsi. Pada tahap pengerjaan skripsi, hanya 20% dari total keseluruhan mahasiswa yang menggunakan software ini.

Di tengah perbincangan luas tentang analisis data berbasis pemrograman, pilihan INSURI untuk tetap menggunakan SPSS justru menunjukkan wajah lain dari praktik pendidikan tinggi. Bukan soal tertinggal atau enggan berubah, melainkan tentang menyesuaikan metode pembelajaran dengan kesiapan mahasiswa dan kondisi institusi.

Dengan SPSS, proses belajar diarahkan pada pemahaman konsep dasar statistic mulai dari uji validitas, reliabilitas, hingga analisis regresi tanpa harus terlebih dahulu berhadapan dengan kerumitan bahasa pemrograman.

Bagi mahasiswa, pendekatan ini memberi ruang belajar yang lebih inklusif. Banyak dari mereka datang dari latar belakang pendidikan yang beragam. SPSS menjadi alat bantu yang memudahkan mereka beradaptasi dengan dunia riset kuantitatif. “Awalnya statistik terasa menakutkan, tapi setelah praktik langsung pakai SPSS, pelan-pelan jadi paham,” tutur seorang mahasiswa semester akhir.

Di sisi lain, penggunaan SPSS juga mencerminkan realitas kerja dosen di kampus swasta. Beban mengajar, bimbingan akademik, serta tuntutan publikasi menuntut efisiensi tanpa mengorbankan ketelitian ilmiah. SPSS memungkinkan proses penelitian berjalan lebih praktis, namun tetap berada dalam koridor metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pengalaman INSURI menunjukkan bahwa kualitas penelitian tidak semata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh ketepatan metode dan kedalaman analisis. Selama prosedur statistik diterapkan secara benar, hasil penelitian berbasis SPSS tetap relevan dan diterima dalam forum akademik nasional. Penulis ingat betul sejarah pengajaran matakuliah Metodologi penelitian dan Statistik di INSURI pada Era tahun 2000 an. Meskipun SPSS sudah dikenal dalam beberapa dekade sebelumnya, dosen Statistik INSURI mulai menerapkan software tersebut dan mengajarkan kepada mahasiswa mulai tahun 2011-an. Sebelumnya, analisis data masih dilakukan dengan cara menghitung manual di papan tulis

Meski demikian, INSURI tidak menutup diri terhadap perkembangan metodologi. SPSS diposisikan sebagai fondasi awal literasi statistik, sementara pengenalan perangkat analisis lain direncanakan secara bertahap. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengolah data, tetapi juga memahami logika ilmiah di balik angka-angka yang mereka hadapi.

Dari ruang kelas hingga meja sidang skripsi, SPSS masih menemani perjalanan akademik mahasiswa INSURI Ponorogo. Sebuah potret sederhana tentang bagaimana kampus kecil menjalankan pendidikan tinggi secara kontekstual tenang, realistis, dan tetap berorientasi pada mutu keilmuan.

Penulis; Admisi Avicenna Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *